Jumat, 26 November 2010

Sebuah Penyesalan


Sendiri di satu pagi memandang cerahnya hari dengan udara yang sejuk. Membuatku selalu berfikir, mengapa seindah ini dunia yang Engkkau ciptakan bagi kami. Membuatku selalu bertanya, apa yang Engkau harapkan ketika mencipta aku dan semua keindahan ini. Satu hal yang sangat tidak kupahami tetapi menjadikanku dengan tulusnya menyatakan bahwa ternyata Engkau sangat mencintaiku.

Suatu hal yang indah yang telah kuperoleh dari Mu. Tetapi apa balasku, aku bahkan lalai dengan apa yang Engkau tugaskan padaku. Lalai saja tidak cukup, bahkan aku melakukan hal hal yang Engkau larang melalui kitab dan rasul Mu. Sungguh apa yang bisa kukatakan mengenai semua ini, semua menjadi sebuah tuak yang menghinakan aku.
Aku ingin hidup seribu tahun lamanya agar aku bisa memperbaiki semua kelakuanku selama ini. Tetapi apakah itu bisa menjamin bahwa diriku tidak akan kembali melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya, untuk ketiga kalinya atau bahkan untuk kesekian kalinya. Sama sekali tidak menjamin, karena aku hanyalah seorang manusia tempatnya dosa dan kesalahan.

Malu sekali diriku ketika melakukan kesalahan, kemudian bersimpuh di malam Mu tetapi keesokan harinya aku melakukan kesalahan yang sama. Teramat sangat malu diriku untuk kembali meminta maaf Mu, sehingga diriku menjadi salah satu manusia yang tergolong munafik. Aku selalu bilang aku sudah melakukan apa yang Engkau perintahkan tetapi aku sendiri tak tahu apa itu kulakukan karena cintaku kepada Mu atau hanya kulakukan sebagai kewajibanku saja. Sungguh hinanya diriku ya Rabb.

Ya Rabb berilah aku sedikit kekuatan untuk menangkal godaan makhluk Mu yang selalu mengajakku ke dalam kebathilan. Bantulah aku agar bisa bersanding dengan umat umat Rasul Mu di surga yang telah Engkau sediakan untuk beliau. Tambahkanlah rasa cinta ku kepada Mu ya Rabb agar aku dapat selalu melakukan apa pun yang Engkau perintahkan kepadaku. Agar aku senantiasa beribadah karena kecintaanku kepada Mu.

??????????????


Kenapa Aku Diuji ?

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah menguji org2 yg sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan sesungguhnya Dia mengetahui org2 yg dusta." - Surah Al-Ankabut ayat 2-3



Kenapa Ujian Seberat Ini ?

"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya." - Surah Al-Baqarah ayat 286



Bagaimana Harus Aku Menghadapinya ?

"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah- daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)." - Surah Al-Imran ayat 200


"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk" - Surah Al-Baqarah ayat 45



Apa Yang Aku Dapat Drpd Semua Ini ?

"Sesungguhnya Allah telah membeli dr org2 mu'min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga utk mereka... .. - Surah At-Taubah ayat 111



Kepada Siapa Aku Berharap ?

"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain drNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal." - Surah At-Taubah ayat 129



Aku Tak Tahan !

"... ..dan jgnlah kamu berputus asa dr rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dr rahmat Allah melainkan kaum yg kafir." - Surah Yusuf ayat 87

Renungan


Kesenangan yang datang

Tak akan selamanya

Begitulah selepas susah ada kesenangan

Seperti selepas malam datangnya siang


Oleh itu waktu senang jangan lupa daratan

Gunakan kesempatan untuk kebaikan

Sebelum segalanya terlepas dari genggaman

Kelak menyesal nanti tak berkesudahan


Apa guna sesalan hanya menekan jiwa

Jangan difikir derita akan berpanjangan

Kelak akan membawa putus asa pada Tuhan


Ujian adalah tarbiyah dari Allah

Apakah kita kan sabar ataupun sebaliknya

Kesenangan yang datang selepas kesusahan

Semuanya adalah nikmat dari Tuhan

Kesedihan


Rasa sedih selalu datang dalam hidup.
Ia tidak pernah berhenti, selalu berjalan.
Dari keluarga sampai ke anak-anak tercinta.
Dari orang asing sampai tetangga
Ia selalu datang.
Kepergian ia yang dicinta dan kepergian orang tua.
Rasa sedih selalu datang.
Sesuatu yang gagal kau raih.
Kesedihan akan datang.

Setelah dimarahi orang tua
Air mata akan menetes.
Berapapun usiamu.
Akan selalu ada waktu di mana kesedihan itu akan datang.
Rasa sedih tidak akan pernah pergi.
Ia akan datang suatu hari.

Tanpa Judul


Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencari dan telah mencoba

Menangis, emangnya kenapa?


Banyak alasan yang dikemukakan seseorang untuk membenarkan tindakan menangisnya. Ada yang bilang karena sedang sedih, sedang senang, sedang gelisah, bahkan ada yang bilang menangis tanpa alasan yang jelas. Menangis dapat memberikan kesejukan tersendiri bagi kita. Menangis menandakan hati kita tidak congkak. Menandakan hati kita tidak sombong. Sampai-sampai ada yang mengatakan jika kita harus menangis di saat Dzikir, jika tidak bisa, maka berpura-puralah menangis. Menangis dapat melunakkan hati yang keras. Maka, jikalau ada seseorang yang menangis, saat itulah di dalam hatinya ada kelembutan dari jiwanya.

Apa yang dapat anda lakukan jika melihat seseorang yang kita cintai sedang menangis? Pastilah kita menanyakan gerangan apa yang menyebabkan dia sampai meneteskan air matanya. Namun, bagi sebagian orang yang menangis banyak diartikan mendapat kesedihan. Seringkali kita langsung memberikan solusi dan jalan keluar untuk apa yang dia alami saat itu. Tapi tahukah anda, bahwa tidak semua orang berpikir seperti anda, banyak orang yang menangis hanya butuh di dengarkan saja apa yang dia rasakan. Rasa empati kita sangat diperlukan saat itu, bukan memberikan masukan dan solusi atas apa yang dia alami saat itu. Jadikan kita pendengar yang baik untuk mereka yang kita kasihi dahulu, baru berikan solusi saat dia sudah lega dan tenang jiwanya.

Minggu, 21 November 2010

MUNAFIK


Munafik. Satu kata yang menarik untuk dicermati, digali, dan dipahami, mengingat jaman sekarang banyak sekali orang yang berlaku demikian. Kemunafikan mereka yang sarat dengan kebohongan, pengkhianatan, dan intrik kepentingan pribadi. Sebenarnya, apa itu munafik?

Saya sendiri juga agak kebingungan saat ingin merumuskan arti munafik itu sendiri (maklum, saya nulis artikel ini aja dengan bermodal pengalaman dan kenekatan). Menurut apa yang pernah (dan masih) saya rasakan , munafik adalah kebohongan, ketika seseorang berkata A padahal di dalam hatinya sebenarnya ia berucap Z. Orang yang memiliki sifat ini, cenderung rela mengobral dusta dan janji palsu demi mencapai kepuasan dan keuntungan pribadinya. Orang-orang yang masuk dalam tipe ini bahkan rela mengkhianati orang yang memberikan kepercayaan penuh pada mereka. Sungguh memalukan.

Saya sendiri sering mengalami perlakuan tersebut, ditanggapi oleh teman secara munafik. Mereka bilang suka, padahal hatinya berteriak-teriak “Gue nggak suka!!!” Kejujuran yang harusnya penting dalam sebuah hubungan persahabatan, kini bagai dua sisi koin, di mana kejujuran di satu sisi bersanding dengan kemunafikan. Keduanya tinggal diundi, dan diterapkan sesuai keadaan. Kadang kita harus berlaku jujur dan sok innocent, kadang pula kita harus tega untuk menjadi munafik. Sungguh menyedihkan, karena menurut saya hidup dengan memelihara kemunafikan itu identik dengan orang yang menyia-nyiakan dirinya sendiri dalam kebohongan, serta mencelakakan orang lain dengan tipu muslihatnya yang manis dan menggairahkan.

Dewasa ini, sudah berkembang suatu tren di mana “yang munafik yang bakalan eksis”. Orang yang menyuarakan kejujuran, malah diinjak-injak bak rumput liar yang mengganggu tumbuh suburnya pohon “kemunafikan” dan “formalisme”. Saya, yang sebenarnya lebih mengutamakan bertindak jujur, oleh keadaan yang sulit terpaksa harus menjadi munafik, dengan memberi jawaban pada teman saat ulangan, misalnya. “Nic, ntar jangan lupa nengok ke gue, ya. Bantuin gu ya Nic, please, gue belum belajar nih. Tenang aja, kalau kita hati-hati ‘kan gurunya nggak bakalan tahu…” begitulah ucapan teman-temanku. Dan mungkin, tanpa saya sadari masih banyak lagi tingkah laku saya yang munafik lainnya, terdesak oleh keadaan yang menjebak serba sulit.

Apakah aku sendiri termasuk golongan orang munafik? Apakah aku juga menenggelamkan hidupku dalam lumpur kunistaan, dan melumuri mata hati orang lain dengan kedustaan sikap dan perkataanku? Apakah aku begitu? Aku sendiri pun bingung. Aku sadar bahwa terkadang aku munafik, dan aku tidak menyangkal hal itu, karena kemunafikan telah tertanam di hati semua insan. Hanya bedanya, apakah kemunafikan itu kita tumbuh suburkan di dalam hati kita, atau kita bunuh dengan racun “kejujuran” dan kita pangkas dengan gunting “ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa”. Dengan mendekatkan diri pada Tuhan dan selalu senantiasa berbuat jujur walaupun konsekuensinya dijauhi, bahkan dikucilkan, niscaya Tuhan akan memberikan kita keteguhan dalam menjalani hidup sebagai pribadi yang jujur dan jauh dari kata munafik.

Mari, walaupun mungkin kita masih mempunyai bibit-bibit munafik itu dalam hati kita, pangkaslah dan cabutlah itu sampai ke akar-akarnya. Jangan biarkan kemunafikan tumbuh subur dalam hati dan jiwa kita, yang selanjutnya, perlahan tapi pasti, akan membawa kita menuju kesengsaraan sejati di neraka. Hentikan budaya munafik yang secara nyata telah menyebarluaskan keuntungan materialnya untuk menipu dan menjerat kita manusia. Jangan sampai, kita ditolak siapapun karena telah bertransformasi menjadi “Manusia setengah Iblis” dengan semua kebusukan yang berakar dari kemunafikan itu.

Masyarakat Indonesia bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, bangga mengembangkan budaya kejujuran dan cinta kasih. Semoga memang demikian adanya. Semoga.