Selasa, 16 November 2010

Tafakur ( Merenungi Diri )


Dalam hening ku tafakur menunggu malam
Bergelanyut bersama sapa angin
Dikejauhan nampak mencekam
Pada jiwa yang selalu diam
Suasana semakin sunyi
Menjelang pertengahan malam menepis
Rindu akan kebebasan pagi
Terasa menunggu kejaran waktu
Sampaiku ditegur oleh putih suara sayup
Sajadah tergerai lurus pada sudut kiblat
Dan ku tersadar dari mimpi
Haruskah ku guyur badan ini dengan kebesaran air suciMu?
Pada akhirnya ku lenggang oleh waktu yang menyapa
Terima kasihku selalu, ku wujudkan
Bersama kebesaran Ya Rabbi
Yang selalu membawa Nur dikedalaman jiwa ini

MEMAKNAI KEHIDUPAN


Ketika hidup menjadi beban tak tertanggungkan dan orang tenggelam dalam putus asa, bukan mati, tetapi hiduplah yang ditakuti. Manusia hendak lari dari kenyataan hidup. Hasrat mati mengalahkan hasrat hidup, sehingga bunuh diri adalah sebuah solusi mengakhiri absurditas itu. Albert Camus melihat ketiadaan makna hidup sebagai problem filosofis paling serius.
Sebenarnya jika seseorang menyelidiki kehidupan secara mendalam, ia akan menemukan bahwa yang dicari oleh jiwa adalah mengetahui makna kehidupan. Para saintis mencarinya di dalam dunia ilmu pengetahuan, para artis di dalam seninya, para filosof mencarinya di dalam filsafat. Apapun minat masing-masing orang tentu berbeda-beda, namun kecenderungan yang sebenarnya adalah sama, yaitu menemukan arti atau makna hidup itu. Ini menunjukkan bahwa jiwa datang ke dunia ini adalah untuk tujuan menyadari dan memahami makna kehidupan ini.

Kehidupan adalah hal, cara, yang berhubungan dengan hidup. Makna adalah pemahaman tertentu yang kita ciptakan terhadap diri sendiri, orang lain, dan kehidupan. Banyak cara tersedia untuk mencapai hidup yang lebih bermakna. Makna itu tidak diciptakan oleh kehidupan atau lingkungan. Kitalah yang diberi hak untuk menciptakan makna atas kehidupan. Karena kita yang menciptakan, maka sifatnya pilihan. Kehidupan bermakna adalah kehidupan yang dinamis, progresif, dan konstruktif. Dasarnya adalah berpikir positif, bersikap positif dan bertindak positif.

Kehidupan kita akan lebih bermakna apabila kita sanggup berpedoman pada sebanyak mungkin filsafat hidup yang positif atau mencerahkan. Memaknai tugas sebagai tantangan akan lebih positif ketimbang memaknainya sebagai tekanan. Setiap orang dan atau kelompok masyarakat memiliki pendapat tersendiri tentang makna hidup. Konsekuensi dari beragamnya pandangan tentang makna hidup itulah yang kemudian ikut membentuk pola pikir dan tindakan yang menghasilkan kebudayaan mereka.

Jean Paul Sartre seorang filosof eksistensialisme yang sering dinyatakan sehaluan dengan Camus menyatakan bahwa manusia adalah apa yang ia cita-citakan, manusia ada sejauh ia merealisasikan dirinya, dan oleh karena itu ia adalah keseluruhan tindakannya. Manusia bukanlah apa-apa, kecuali apa yang dinyatakan oleh hidupnya. Dengan pernyataan ini Sartre ingin menegaskan bahwa eksistensi manusia adalah menyangkut keseluruhan rangkaian usaha-usaha yang ia lakukan dalam hidupnya.

Manusia bukanlah siapa-siapa, selain apa yang diperjuangkan dalam hidupnya. Pernyataan-pernyataan eksistensial ini perlu dipahami dengan baik sebagai dasar untuk memahami kebebasan manusia. Namum, kebebasan bukan berarti ”lepas sama sekali” dari kewajiban dan beban. Kebebasan adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan tanggung jawab, dan tidak bisa dipisahkan, dengan kebebasan inilah manusia bereksistensi.

Jadi, bentuk kehidupan manusia yang dapat dipahami adalah bergerak dari satu keinginan ke hasrat yang lain. Mekanismenya adalah, pertama kita akan merasakan keinginan yang besar, hasrat yang besar, tekad yang besar, nafsu yang besar. Kemudian kita akan berusaha untuk mendapatkan hal tersebut, manusia berhasrat untuk memiliki mobil yang mewah, rumah yang indah, pakaian yang indah, kapal pesiar yang megah, istri cantik atau suami tampan, serta anak-anak yang lucu. Karena dengan pencapaian atau pemenuhan hasrat, manusia menampilkan eksistensinya.

Akan tetapi, setelah semua hasrat manusia itu terpenuhi, tiba-tiba manusia merasakan kehampaan, dari berada berubah menjadi ketiadaan. Kebosanan karena pada hakikatnya setelah tercapai hasrat keinginannya, manusia akan membutuhkan keinginan lainnya. Pada gilirannya tujuan akhir manusia akan mengarah kepada hal yang bersifat utopis, sehingga sejarah peradaban manusia tidak akan pernah putus dalam mencapai tujuan hidup yang hakiki atau tujuan akhir dari pemaknaan hidupnya.

Sesungguhnya makna hidup manusia sudah tergambar dimana-mana, dari pengalaman indah, dari pengalaman buruk, dari hubungan dengan istri atau suami dan anak-anak, dari cara kita bekerja sehari-hari, dari cara kita berkendara, dan banyak lagi. Namun karena semua ini hanya bersifat rutinitas, seringkali maknanya terlewati oleh kita dan oleh karena kita perlu kita cari, mencari makna hidup. Yang perlu kita lakukan bukanlah sekedar mencari dan mencari, tapi merubah makna dari setiap kejadian yang sering terlewati jadi sesuatu yang nyata, sesuatu yang kita harapkan, yang kita pelajari, yang kita ambil hikmahnya, dan sesuatu yang kemudian makin menguatkan semangat kita dalam hidup ini.

Rabu, 08 September 2010

Matches of Toni Kroos



Wed 08/09/10 : EUC Germany (6 - 1) Azerbaijan

Sat 04/09/10 : EUC Belgium (0 - 1) Germany

Sat 28/08/10 : BUN Kaiserslautern (2 - 0) Bayern München

Sat 21/08/10 : BUN Bayern München (2 - 1) Wolfsburg

Mon 16/08/10 : DFP Germania Windeck (0 - 4) Bayern München

Thu 12/08/10 : FRI Denmark (2 - 2) Germany

Sun 11/07/10 : WOC Uruguay (2 - 3) Germany

Thu 08/07/10 : WOC Germany (0 - 1) Spain

Sat 03/07/10 : WOC Argentina (0 - 4) Germany

Sun 27/06/10 : WOC Germany (4 - 1) England

Toni Kroos



STECKBRIEF

*Name: Kroos

*Vorname: Toni

*Geburtsdartum: 04.01.1990

*Geburtsort: Greifswald

*Sternzeichen: Steinbock

*Familie: Mutter (Birgit, Lehrerin), Vater (Roland, Jugentrainer H. Rostock), 1 Bruder (Felix)

*Größe: 1.82m

*Schuhgröße: 42

*Hobbys: Musik, Internet, Spielekonsolen und Tennis

*Schulabschluss: FOR (Mittlere Reife)

*Eigenschaften: ehrgeizig, freundlich & aufgeschlossen

*Musikgeschmack: u.a. Robbie Williams, Herbert Grönemayer

*Motto: Immer an die eigenen Stärken glauben.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Keutamaan Taubat dan Orang-orang yang Bertaubat dalam Al Qur'an


Tentang dorongan dan anjuran untuk bertobat, Al Qur'an berbicara:

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah: 222).

Maka derajat apa yang lebih tinggi dari pada mendapatkan kasih sayang Rabb semesta alam.

Dalam menceritakan tentang ibadurrahman yang Allah SWT berikan kemuliaan dengan menisbahkan mereka kepada-Nya, serta menjanjikan bagi mereka surga, di dalamnya mereka mendapatkan ucapan selamat dan mereka kekal di sana, serta mendapatkan tempat yang baik. Firman Allah SWT:

"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan)dosa(nya)." (QS. Al Furqaan: 68-70.).

Keutamaan apalagi yang lebih besar dari pada orang yang bertaubat itu mendapatkan ampunan dari Allah SWT , hingga keburukan mereka digantikan dengan kebaikan?

Dan dalam penjelasan tentang keluasan ampunan Allah SWT dan rahmat-Nya bagi orang-orang yang bertaubat. Allah SWT berfirman:

"Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini membukakan pintu dengan seluas-luasnya bagi seluruh orang yang berdosa dan melakuan kesalahan. Meskipun dosa mereka telah mencapai ujung langit sekalipun. Seperti sabda Rasulullah Saw:

"Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian." (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan ia menghukumkannya sebagai hadits hasan dalam kitab sahih Jami' Shagir - 5235)

Di antara keutamaan orang-orang yang bertaubat adalah: Allah SWT menugaskan para malaikat muqarrabin untuk beristighfar bagi mereka serta berdo'a kepada Allah SWT agar Allah SWT menyelamatkan mereka dari azab neraka. Serta memasukkan mereka ke dalam surga. Dan menyelamatkan mereka dari keburukan. Mereka memikirkan urusan mereka di dunia, sedangkan para malaikat sibuk dengan mereka di langit. Allah SWT berfirman:

"(Malaikat-malaikat) yang memikul 'arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala, ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka kedalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak -bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari(pembalasan?)kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar." (QS.Ghaafir: 7-9).

Terdapat banyak ayat dalam Al Qur'an yang mengabarkan akan diterimanya taubat orang-orang yang melakukan taubat jika taubat mereka tulus, dengan banyak redaksi. Dengan berdalil pada kemurahan karunia Allah SWT, ampunan dan rahmat-Nya, yang tidak merasa sempit dengan perbuatan orang yang melakukan maksiat, meskipun kemaksiatan mereka telah demikian besar.

Seperti dalam firman Allah SWT:

"Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hambaNya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? ." (QS. At-Taubah: 104)

"Dan Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan." (QS. Asy-Syuuraa: 25)

Dan dalam menyipati Dzat Allah SWT: "Yang mengampuni dosa dan menerima taubat." (QS. Ghaafir: 3)

Terutama orang yang bertaubat dan melakukan perbaikan. Atau dengan kata lain, orang yang bertaubat dan melakukan amal yang saleh. Seperti dalam firman Allah SWT dalam masalah pria dan wanita yang mencuri:

"Maka barangsiapa yang bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu, dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Maaidah: 39)

"Tuhanmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al An'aam: 54)

"Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu, dan memperbaiki ( dirinya) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 119)

Puja-puji terhadap Allah SWT dengan nama-Nya "at-Tawwab" (Maha Penerima Taubat) terdapat dalam al Quran sebanyak sebelas tempat. Seperti dalam do'a Ibrahim dan Isma'il a.s.:

"Dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al Baqarah: 128).

Juga seperti dalan sabda Nabi Musa kepada Bani Israil setelah mereka menyembah anak sapi:

"Maka bertaubatlah kepada Tuhan Yang menjadikan kamu, dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu, pada sisi Tuhan Yang menjadikan kamu, maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang ." (QS. Al Baqarah: 54)

Allah SWT berfirman kepada Rasul-Nya:

"Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa: 64)

ALLAH SWT Maha Pengampun Atas Semua Dosa


Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan :

1. “Hai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian selalu berbuat dosa pada malam dan siang hari, sedang Aku mengampuni dosa-dosa semuanya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepadaKu, niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (HR. Muslim, Al Baihaki dan Al Hakim )

2. “Hai anak adam, selama kalian berdoa dan berharap kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan ampunan kepada kalian atas semua dosa yang kalian lakukan danpa Kupedulikan. Hai anak adam, seandainya dosa-dosamu mencapai ketinggian langit, kemudian kalian memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni semua dosa yang telah kalian lakukan tanpa Kupedulikan. Hai anak adam, seandainya kalian datang kepada-Ku dengan membawa dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian kalian datang kepada-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatupun, niscaya Aku akan datang dengan membawa ampunan sepenuh bumi.” (HR. At-Tirmidzi)

3. Dalam kitab shahihain disebutkan bahwa dahulu pernah ada seorang lelaki yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri karena banyak melakukan dosa-dosa. Setelah tanda-tanda kematian datang menjemputnya, ia berpesan kepada anak-anaknya:”Jika aku meninggal dunia, kumpulkanlah kayu bakar buat diriku, kemudian bakarlah mayatku dan tumbuklah abuku hingga lembut, lalu taburkanlah ia bersama dengan angin. Sesungguhnya lelaki ini mengira bahwa dengan perbuatannya itu Allah SWT tidak akan dapat menghidupkannya kembali untuk menanyai dosa-dosa yang telah dilakukannya, padahal Allah SWT telah berfirman dalam kitabnya : ” Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan dia lupa kepada kejadiannya, ia berkata :”Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?, katakanlah :”Ia akan dihidupkan oleh Rob yang menciptakannya kali yang pertama dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluq.” (QS. Yaasin : 78-79).

Setelah lelaki itu wafat, anak-anaknya menunaikan wasiatnya. Selanjutnya, Allah SWT menanyainya : “Hai hamba-Ku apakah yang mendorongmu melakukan hal tersebut?” Ia menjawab :”Wahai Tuhanku aku takut kepadaMu dan khawatir dengan dosa-dosaku yang banyak.” Allah SWT berfirman :”Hai para malaikat-Ku, saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya Aku memberikan ampunan baginyadan memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Bukhori-Muslim)

Sumber : Jangan Melampaui Batas, Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni

ALLAH SWT MAHA PENGAMPUN


Pernahkah teman-teman merasa bersalah terhadap Allah Swt karena telah tidak tabah atau tidak lulus dengan ujian yang diberikan-Nya? Atau pernahkah teman-teman merasa bersalah kepada Allah Swt karena telah berbuat suatu kesalahan atau dosa? Yang mana semua kesalahan dan dosa tersebut menyebabkan hati kita jadi tidak tenang dan pikiran kita sepertinya tertutup. Dan yang sangat menyedihkan adalah, dimana kita jadi tidak bisa lagi merasakan indah dan bahagianya dekat dengan Allah. Kemudian kita akan merasa cemas dan takut, kalau-kalau Allah Swt mencabut kenikmatan dekat dengan-Nya dan mencabut cinta dalam hati kita pada-Nya?.

Bagi yang pernah mengalaminya, segeralah bertaubat dengan sungguh-sungguh taubat. Mengakui dengan jujur dan menyesal betapa kita telah menzalimi diri kita dengan semua kesalahan yang kita lakukan. Bila kita melakukan hal tersebut, InsyaAllah dalam shalat kita, Allah Swt yang Maha Pengampun, akan memberikan kita jawaban yang menenangkan hati kita.

Dimana secara tiba-tiba dalam shalat taubat dan atau tahajut yang kita lakukan, saat kita memohon ampunan-Nya, akan terpikir oleh kita sebuah firman-Nya, yang sungguh seperti jawaban atas permohonan ampunan yang kita mohonkan pada-Nya, dimana sebelumnya ayat tersebut tidak pernah terlintas dalam benak kita, tiba-tiba kita ingat akan ayat tersebut dan bisa menenangkan hati kita, ayatnya sebagai berikut : “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az Zumar ayat 53).

Kita akan temukan betapa Allah Swt Maha Pengampun dan Maha Penyayang, seperti yang banyak tertulis dalam firman-Nya, di beberapa surah :

1. “…..karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS. Huud : 61)
2. “…….Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Muzzammil : 20)
”…….Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nuur : 62)
3. (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisaa’ :96)

Kita sering kali melakukan kesalahan dan dosa dalam hidup kita, baik itu kesalahan/dosa kecil atau besar. Seandainya tidak ada rahmat Kemurahan Karunia dan Ampunan dari Allah, tentunya tidak akan ada seorang manusiapun yang selamat dari dosa.

Beruntunglah kita, karena ampunan, rahmat dan kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya teramat sangat luas dan tidak terbatas. Saya ingat membaca di Al Hikam, Ibn Athaillah al-Sakandari, Yahya bin Mu’aadz ra berkata : “Jika Allah menggunakan keadilan-Nya, niscahya tidak berarti segala amal kebaikan dan bila Allah menghadapi kita dengan kurnia-nya, maka tidak ada artinya segala dosa.”

Allah Swt Maha Pengampun, seberapa banyakpun dosa dan maksiat yang sudah kita lakukan, Allah Swt selalu berkenan mengampuni kita dan Allah Swt selalu menunggu kita untuk kembali kepada-Nya dan Allah Swt sangat mencintai hamba-Nya yang kembali kepada-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman : “Jika hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya satu hasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta, Aku mendekatinya satu depa. Dan jika ia mendatangiku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berlari”. (HR.Muslim)

Dengan kita menyadari dan menyesali kesalahan yang sudah kita perbuat, kemudian kita sungguh-sungguh bertaubat dan berusaha memperbaiki kesalahan kita, maka Allah dengan Kemurahan dan Keluasaan Kasih Sayang-Nya, akan membantu kita, menutupi kekurangan kita dengan karunia-Nya. Jadi bagi siapa saja yang telah melakukan perbuatan dosa, jangan bekecil hati, SEGERALAH BERTAUBAT DENGAN TAUBAT YANG SEBENAR-BENARNYA jangan putus asa dari rahmat ampunan Allah. Ingatlah, bahwa betapa Luas dan Tidak Terbatasnya Rahmat Ampunan Allah Swt untuk kita semua.